Rabu, 01 April 2009

Buka Dulu Topeng


Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “diantara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah (sikapnya) meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna baginya
(Hadist Hasan yang diriwayatkan At-Tirmidzi)

Suatu hari tukang batu sedang asyik bekerja memecahkan batunya dan ketika itu lewatlah seorang raja yang sedang melakukan kunjungan untuk melihat perkembangan rakyatnya. Tukang batu yang melihat kegiatan raja tersebut kemudian berandai-andai kalau seumpama ia bisa menjadi raja maka alangkah enaknya pekerjaannya yang hanya melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah dengan fasilitas gaji yang sangat memadai berbeda dengan pekerjaannya yang sekarang yang hanya menguras tenaga tetapi hasilnya sangat tidak memuaskan. Rupanya keinginan tukang batu tersebut di dengar oleh sang peri sehingga dengan tiba-tiba ia berubah menjadi seorang raja lengkap dengan pengawalnya. Di bawah sinar matahari siang ia memberikan pengarahan kepada rakyatnya di sebuah daerah miskin yang sangat jauh dan terpencil, ia merasakan kegerahan akibat suhu yang teramat panas karena sinar matahari di siang yang terik itu. Merasakan kepanasan karena sinar matahari tiba-tiba muncul keinginan untuk menjadi matahari dan tak lama berselang ia telah menjadi matahari. Karena bangganya menjadi matahari dengan seenaknya ia mengatur panas kesana kemari, tapi tiba-tiba ia merasakan gelap yang disebabkan oleh gerakan awan yang menutupi sinarnya. Ia pun mendengar sorak-sorakan manusia yang gembira karena kedatangan awan berarti akan hujan dan itu pertanda kekeringan akan berakhir. Mengetahui bahwa awan lebih dihormati, ia pun kemudian meminta kepada peri untuk merubah dirinya menjadi awan dan sim salabim ia telah berubah menjadi awan. Ia pun kemudian menikmati dirinya dielu-elukan oleh manusia karena bisa menurunkan hujan, tetapi karena keasyikan ia lupa air hujan telah menyebabkan banjir sehingga manusia berharap datangnya angin untuk mengusir awan yang berisi air hujan tersebut. Ia pun akhirnya tersingkir karena tertiup angin, mengetahui kehebatan angin iapun meminta lagi kepada peri untuk dirubah menjadi angin dan sekali lagi permintaannya dituruti. Ia pun berubah menjadi angin dan ia pun berasyik masyuk menghembuskan angin yang terkadang ganas dengan berubah menjadi angin topan ataupun sepoi-sepoi, tetapi ada satu yang membuat ia menjadi penasaran yaitu batu. Ya batu yang sangat besar ia tak bergeser sekalipun ia berubah menjadi angin topan, kekokohan batu itu membuatnya mengajukan permintaan terakhir kepada peri untuk dirubah menjadi batu dan dalam sekejap ia telah menjadi batu. Dari jauh ia mendengar suara langkah kaki yang ternyata seorang tukang batu yang bersiap-siap memecahkan dirinya.
Salam sukses mulia, banyak terjadi dalam kehidupan kita bagaimana seseorang menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri, kita berlomba-lomba untuk mengidentifikasi diri dengan kepemilikan materi, gelar, jabatan, status sosial, intelektual, kecantikan dan ketampanan membuat citra diri yang asli menjadi kabur. Banyak orang kemudian berpura-pura, memakai topeng, membangun citra diri yang palsu, membohongi diri sendiri dan orang lain hanya untuk mencapai sebuah impian agar semua orang menghormatinya.
Manusia modern adalah tipe manusia yang stress dan capek hanya untuk mencapai citra diri yang palsu, mereka menggunakan topeng untuk menutupi kekurangan diri dan untuk menutupi perasaan-perasaan khawatir dan terancam. Topeng yang kita gunakan akan semakin tebal bila ketidaknyamanan diri dan tekanan sosial semakin tinggi sehingga secara tidak sadar kita telah menjadi badut. Ya badut boneka besar yang kita tidak ketahui siapa orang dibalik baju badut yang tugasnya menghibur orang lain, menjadi tontonan banyak orang tetapi dibalik kegembiraan orang lain boleh jadi orang yang memerankan tokoh badut menyimpan 1001 kesedihan, kekhawatiran dan masalah yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Berikut petikan lagu yang berjudul badut yang dipopulerkan oleh kelompok Swami yang mungkin bisa memberikan sebuah ilustrasi menarik :
… Peragawati peragawan senyum-senyum seperti badut
Penyanyi dan pemusik, bintang film nampang seperti badut
Di televisi, di koran-koran
Di dalam radio, di atas mimbar...
.... Para pengaku intelek tingkah polanya lebihi badut
Kaum pencuri, tikus dan politikus palsu saingi badut
Di televisi, di koran-koran
Di dalam radio, di atas mimbar...
.....Ku aku aku aku aku aku aku aku seperti kamu
Mu kamu kamu kamu kamu kamu kamu seperti badut.....
Dalam sebuah wawancara televisi seorang yang sangat terkenal di dunia hiburan lawak bercerita bagaimana susahnya ia menggunakan topeng, “sebagai pelawak, saya di tuntut untuk selalu tampil gembira, menyenangkan dan membuat orang tertawa. Padahal, saya sendiripun seorang manusia yang kadang dirundung kesedihan dan masalah. Tapi fans tidak mau tahu dengan masalah yang saya hadapi. Mereka menuntut kehidupan yang lain dari saya”. Untuk menghindari tekanan sosial yang begitu komplek akhirnya ia pun menenangkan diri dengan memakai obat-obatan. Bagaimana dengan anda ?
Ada banyak cara untuk melepaskan diri dari topeng-topeng palsu yaitu dengan memahami sebuah konsep tentang diri. Dalam hidup ini setidaknya ada tiga lapisan diri pertama adalah citra diri kita (self image), citra ini adalah apa yang kita tampilkan secara sosial dan menyangkut penilaian orang lain. Kedua adalah konsep diri (self concept), konsep ini menyangkut penilaian diri terhadap diri sendiri dan yang ketiga adalah jati diri (true self) penilaian diri sendiri yang sejati.
Antara citra diri, konsep diri dan jati diri seringkali bertolak belakang. Sebagai contoh ketika kita begitu ingin diterima oleh orang lain, pasangan, kelompok atau organisasi (termasuk jamaah), maka kita mulai membangun citra diri yang tampak positif kita kemudian tidak berani untuk mengkritik, mengungkap pendapat yang berbeda, perasaan yang berbeda, memperlihatkan kekurangan, khawatir dinilai yang tidak-tidak, malu kalau di nilai negatif dan lain sebagainya. Sehingga kita kemudian menjadi pribadi yang selalu berharap dicintai dan diterima kita sangat takut dikucilkan apalagi diboikot maka kita pun rela membuat image baru melalui kata, pakaian, hobi, adat, etika, teman dan lain-lain di balik itu kita pun juga mempunyai sebuah persepsi tentang siapa kita “Who am i ?” konsep diri kita sering kali kemudian mengikuti citra diri yang kita baru. Boleh jadi konsep diri kita bisa benar dan juga bisa keliru, ketika kemudian konsep diri kita membenarkan bahwa kita memang khawatir, takut tidak di terima oleh orang lain, takut menyakiti orang lain, minder dan lain sebagainya tetapi boleh jadi apa yang kita persepsikan itu bisa salah. Namun kecenderungan kita membenarkan apa yang menjadi konsep diri yang negatif karena itu datang dari opini kita sendiri. Ada satu yang kemudian banyak orang lupakan yaitu jati diri, ya jati diri tidak bisa kita bohongi ia akan berbicara jujur sejujurnya kepada kita, bila kita mengingkarinya maka kita akan berhadapan dengan nilai moral universal yang telah diciptakan oleh Allah sang Maha Kuasa. Untuk menemukan jati diri yang sejati maka buka dulu topeng kita ?

Menangkap Peluang


Kami jelaskan yang demikian itu agar kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu
Qs. Al-Hadid : 23

Sepasang suami istri yang sudah menikah hampir empat belas tahun memiliki tiga orang anak, awal menikah sang suami lebih tua tujuh tahun dari istrinya. Waktu itu keduanya bertemu secara kebetulan di sebuah perguruan tinggi komputer ternama, hanya dalam waktu dua pekan masa perkenalan mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan. Masa bulan madu tidak mereka lewati karena keburu ke suatu kota karena sang suami hanya di beri cuti yang singkat dari perusahaan otomotif yang sangat terkenal. Tetapi sang suami tidak merasa betah bekerja akhirnya keluar dari perusahaan tersebut dan memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya dan untuk menghidupi belanja sehari-hari mereka membuka rental komputer yang kebetulan sesuai dengan jurusan sang istri. Konflik akhirnya pecah antara mertua dengan sang menantu karena sang mertua menginginkan anaknya yang notabene suami dari menantunya bekerja seperti orang-orang kantoran yang berdasi pergi pagi pulang sore, sang menantu merasa tertekan dari dua sisi, di sisi yang satu sang suami sudah tak mau lagi untuk melamar kerja di sisi yang lain sang sang menantu tidak ingin dikatakan oleh mertuanya sebagai sumber kesialan. Akhirnya pada suatu waktu sang istri menemukan sebuah lowongan kepala cabang dari surat kabar skala nasional, sang istri memutuskan untuk mengirimkan lamaran ke perusahaan tersebut tanpa sepengetahuan sang suami, dengan keahlian komputer yang di milikinya ia kemudian menuliskan surat lamaran tersebut lengkap dengan tanda tangan suaminya. Ketika ia akan meminta tanda tangan suaminya, sang istri memilih di malam hari di mana sang suami antara sadar dan tak sadar istrinya berkata ”Kak tolong tanda tangani di sini !” sang suami dengan malasnya bertanya ”untuk apa tanda tangan ?” sang istri menjawab dengan singkat ”untuk mengurus kartu keluarga”. Besoknya kemudian ia mengirim surat lamaran tersebut dan tak lama berselang ternyata lamaran tersebut lolos administrasi sehingga sang suami yang tak tahu apa-apa dihadapkan oleh dua pilihan yang berat antara menolak panggilan tersebut atau menceraikan sang istri sebagai ancaman bagi sang suami bila tak memenuhi panggilan wawancara dari perusahaan tersebut. Sang suami akhirnya memenuhi panggilan wawancara tersebut dan ternyata ia di terima singkat cerita sekarang suami istri tersebut telah sukses, sang suami telah menjadi direktur yang sukses dan mempunyai banyak bisnis dari pengembangan gajinya sedangkan sang istri juga menjadi pengusaha yang lumayan sukses.
Salam sukses mulia, pembaca dalam hidup ini peluang hanya datang sekali saja, peluang yang sudah berlalu tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya begitu pula peluang yang akan datang belum tentu menghampiri kita, jadi bila peluang untuk menjadi sukses sudah berada di depan mata maka jangan berpikir panjang untuk menangkapnya segera bila kemudian anda sudah berusaha dan ternyata gagal maka anda harus menciptakan peluang itu sendiri sebagai contoh dua perusahaan A dan B yang bergerak di bidang industri sandal jepit akan melakukan ekspansi (memperluas) pasar di pulau Papua maka untuk memulai hal tersebut maka kedua perusahaan A dan B tersebut mengirim seseorang untuk melakukan survei di pulau Papua ketika orang dari perusahaan A tiba maka ia melihat bahwa banyak orang Papua yang tidak mengenakan sandal maka seketika itu juga ia kemudian melapor ke perusahaan mengatakan bahwa akan sangat susah untuk memasarkan sandal jepit produksi perusahaan A di pulau Papua karena hampir semua orang Papua tidak memakai sandal sedangkan ketika perusahaan B mengirim orang ke pulau Papua dan melihat begitu banyaknya orang Papua yang tidak memakai sandal maka ia kemudian melaporkan hasi surveinya ke perusahaan B bahwa ini adalah peluang yang sangat menguntungkan bagi perusahaan B untuk menjual sandal produksinya karena masih banyak orang Papua yang sangat membutuhkan sandal jepit.
Dalam menciptakan peluang maka salah satu tipsnya adalah banyak berteman, bila anda mempunyai teman maka anda telah menciptakan peluang tersebut. Seorang pengusaha real estate yang tinggal di Surabaya mempunyai sebuah kebiasaan unik yaitu melambaikan tangan atau menyapa orang-orang yang belum dikenalinya menurutnya dengan melambaikan tangan atau menyapa orang-orang baru dikenalinya maka ia telah menciptakan peluang bisnis yang luar biasa, bila orang yang anda lambaikan tangan tersebut meresponnya maka saya akan menyapanya yang lebih hangat dan akan dilanjutkan dengan berkenalan mulai A sampai Z dari situ kemudian setelah saya mengenalnya maka saya akan menghubunginya untuk menawarkan rumah. Kejadian yang serupa pernah penulis dengar bagimana salah seorang ustad mendapatkan proyek pengadaan buku yang ditulisnya sebanyak 1000 buah hanya karena ketika ustad tersebut membawakan sebuah pengajian di mana ada seorang kepala perpustakaan daerah yang mengikuti pengajian tersebut, ustad tersebut tidak menyia-yiakan kesempatan maka beberapa buku yang telah ditulisnya dihadiahkan kepada kepala perpustakaan daerah karena tertarik oleh buku ustad tersebut maka kepala perpustakaan tersebut memesan untuk perpustakaan yang dipimpinnya.
Banyak orang yang sangat bodoh dalam melihat peluang atau kesempatan diri mereka dalam meraih kesuksesan. Hal ini terjadi disebabkan yang pertama adalah mereka selalu menunda segala sesuatu, dalam sebuah hadist diingatkan bahwa kerjakanlah segera lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya yaitu pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, pergunakanlah masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu, pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan yang terakhir pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematian. Kedua karena anggapan bahwa apa yang ia dapatkan hanya kebetulan semata, orang-orang sukses bukanlah karena kebetulan mereka sudah kaya dari sononya tetapi lebih disebabkan peluang yang dimanfaatkan secara maksimal. Apa yang didapatkan hari ini tidak terlepas dari apa yang telah kita lakukan di hari kemarin dan apa yang akan terjadi besok itu karena apa yang dilakukan hari ini sehingga orang yang sukses hari ini lebih disebabkan karena mereka mampu menangkap peluang kesuksesan di hari kemarin dan orang yang sukses di masa datang tidak lebih tidak kurang karena hari ini mereka mampu menangkap peluang kesuksesan bahkan menciptakan peluang kesuksesan.
Tidak jauh dari sebuah pasar yang sedang sibuk antara pedagang dan pembeli terdapat seorang pemuda yang sedang tidur malas-malasan, tiba-tiba datang seorang kakek yang akan menuju ke pasar tersebut berkata kepada pemuda tersebut ”wahai pemuda kenapa kau hanya tidur-tiduran saja sedangkan kau lihat sendiri bagaimana orang-orang di sana bekerja untuk mencari rezki ?” pemuda tersebut menjawab ”Kakek saya sedang menunggu seseorang yang akan memberikan keberuntungan padaku”, mendengar jawaban pemuda malas tersebut kakek tersebut berlalu meninggalkannya sambil berujar ”pemuda bodoh mana ada uang jatuh dari langit”. Tak berapa lama datang seseorang dari arah pasar dan kemudian menghampiri pemuda malas ”wahai pemuda kenapa kau hanya tidur-tiduran saja di sini ! kenapa engkau tidak bekerja untuk mencari keberuntungan di pagi ini ?” pemuda itu kemudian memberikan jawaban yang sama ”Saya sedang menunggu seseorang yang akan memberikan keberuntungan”, orang tersebut kemudian berkata ”wahai pemuda maukah engkau meneruskan usahaku dalam jual beli ?” pemuda itu kemudian menjawab ”tidak, terima kasih” akhirnya orang tersebut pergi. Tidak berapa lama kakek yang tadi melintas telah kembali dari pasar dan tak lupa singgah pada pemuda tadi kemudian berkata ”apakah sudah datang orang yang membawa keberuntunganmu ?” pemuda itu kemudian menjawab ”belum wahai kakek”. lantas orang yang menyinggahimu tadi tidak menawarkan apa-apa padamu ujar sang kakek, pemuda itu kemudian menjawab ”tidak menawarkan apa-apa selain hanya menawarkan aku untuk meneruskan usahanya” kakek dengan semangatnya berseru ”apa kamu terima tawarannya !” pemuda tersebut menjawab dengan mantap ”Tidak”. Kakek tersebut kelihatan menunduk lesu sambil berkata kepada pemuda tersebut ”Wahai pemuda engkau telah melewatkan keberuntunganmu hari ini, sesungguhnya orang yang menawarkan sesuatu kepadamu adalah saudagar yang sangat kaya di kota ini dan ia sampai hari ini belum memiliki keturunan untuk mewarisi usaha dan harta kekayaannya”. Mendengar penjelasan dari kakek tersebut kontan sang pemuda berlari mengejar orang tadi tetapi apa lacur pemuda tersebut tidak menemukannya. Pembaca kalau kesempatan sudah di depan mata maka jangan pernah melepaskannya.