
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “diantara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah (sikapnya) meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna baginya
(Hadist Hasan yang diriwayatkan At-Tirmidzi)
Suatu hari tukang batu sedang asyik bekerja memecahkan batunya dan ketika itu lewatlah seorang raja yang sedang melakukan kunjungan untuk melihat perkembangan rakyatnya. Tukang batu yang melihat kegiatan raja tersebut kemudian berandai-andai kalau seumpama ia bisa menjadi raja maka alangkah enaknya pekerjaannya yang hanya melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah dengan fasilitas gaji yang sangat memadai berbeda dengan pekerjaannya yang sekarang yang hanya menguras tenaga tetapi hasilnya sangat tidak memuaskan. Rupanya keinginan tukang batu tersebut di dengar oleh sang peri sehingga dengan tiba-tiba ia berubah menjadi seorang raja lengkap dengan pengawalnya. Di bawah sinar matahari siang ia memberikan pengarahan kepada rakyatnya di sebuah daerah miskin yang sangat jauh dan terpencil, ia merasakan kegerahan akibat suhu yang teramat panas karena sinar matahari di siang yang terik itu. Merasakan kepanasan karena sinar matahari tiba-tiba muncul keinginan untuk menjadi matahari dan tak lama berselang ia telah menjadi matahari. Karena bangganya menjadi matahari dengan seenaknya ia mengatur panas kesana kemari, tapi tiba-tiba ia merasakan gelap yang disebabkan oleh gerakan awan yang menutupi sinarnya. Ia pun mendengar sorak-sorakan manusia yang gembira karena kedatangan awan berarti akan hujan dan itu pertanda kekeringan akan berakhir. Mengetahui bahwa awan lebih dihormati, ia pun kemudian meminta kepada peri untuk merubah dirinya menjadi awan dan sim salabim ia telah berubah menjadi awan. Ia pun kemudian menikmati dirinya dielu-elukan oleh manusia karena bisa menurunkan hujan, tetapi karena keasyikan ia lupa air hujan telah menyebabkan banjir sehingga manusia berharap datangnya angin untuk mengusir awan yang berisi air hujan tersebut. Ia pun akhirnya tersingkir karena tertiup angin, mengetahui kehebatan angin iapun meminta lagi kepada peri untuk dirubah menjadi angin dan sekali lagi permintaannya dituruti. Ia pun berubah menjadi angin dan ia pun berasyik masyuk menghembuskan angin yang terkadang ganas dengan berubah menjadi angin topan ataupun sepoi-sepoi, tetapi ada satu yang membuat ia menjadi penasaran yaitu batu. Ya batu yang sangat besar ia tak bergeser sekalipun ia berubah menjadi angin topan, kekokohan batu itu membuatnya mengajukan permintaan terakhir kepada peri untuk dirubah menjadi batu dan dalam sekejap ia telah menjadi batu. Dari jauh ia mendengar suara langkah kaki yang ternyata seorang tukang batu yang bersiap-siap memecahkan dirinya.
Salam sukses mulia, banyak terjadi dalam kehidupan kita bagaimana seseorang menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri, kita berlomba-lomba untuk mengidentifikasi diri dengan kepemilikan materi, gelar, jabatan, status sosial, intelektual, kecantikan dan ketampanan membuat citra diri yang asli menjadi kabur. Banyak orang kemudian berpura-pura, memakai topeng, membangun citra diri yang palsu, membohongi diri sendiri dan orang lain hanya untuk mencapai sebuah impian agar semua orang menghormatinya.
Manusia modern adalah tipe manusia yang stress dan capek hanya untuk mencapai citra diri yang palsu, mereka menggunakan topeng untuk menutupi kekurangan diri dan untuk menutupi perasaan-perasaan khawatir dan terancam. Topeng yang kita gunakan akan semakin tebal bila ketidaknyamanan diri dan tekanan sosial semakin tinggi sehingga secara tidak sadar kita telah menjadi badut. Ya badut boneka besar yang kita tidak ketahui siapa orang dibalik baju badut yang tugasnya menghibur orang lain, menjadi tontonan banyak orang tetapi dibalik kegembiraan orang lain boleh jadi orang yang memerankan tokoh badut menyimpan 1001 kesedihan, kekhawatiran dan masalah yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Berikut petikan lagu yang berjudul badut yang dipopulerkan oleh kelompok Swami yang mungkin bisa memberikan sebuah ilustrasi menarik :
… Peragawati peragawan senyum-senyum seperti badut
Penyanyi dan pemusik, bintang film nampang seperti badut
Di televisi, di koran-koran
Di dalam radio, di atas mimbar...
.... Para pengaku intelek tingkah polanya lebihi badut
Kaum pencuri, tikus dan politikus palsu saingi badut
Di televisi, di koran-koran
Di dalam radio, di atas mimbar...
.....Ku aku aku aku aku aku aku aku seperti kamu
Mu kamu kamu kamu kamu kamu kamu seperti badut.....
Dalam sebuah wawancara televisi seorang yang sangat terkenal di dunia hiburan lawak bercerita bagaimana susahnya ia menggunakan topeng, “sebagai pelawak, saya di tuntut untuk selalu tampil gembira, menyenangkan dan membuat orang tertawa. Padahal, saya sendiripun seorang manusia yang kadang dirundung kesedihan dan masalah. Tapi fans tidak mau tahu dengan masalah yang saya hadapi. Mereka menuntut kehidupan yang lain dari saya”. Untuk menghindari tekanan sosial yang begitu komplek akhirnya ia pun menenangkan diri dengan memakai obat-obatan. Bagaimana dengan anda ?
Ada banyak cara untuk melepaskan diri dari topeng-topeng palsu yaitu dengan memahami sebuah konsep tentang diri. Dalam hidup ini setidaknya ada tiga lapisan diri pertama adalah citra diri kita (self image), citra ini adalah apa yang kita tampilkan secara sosial dan menyangkut penilaian orang lain. Kedua adalah konsep diri (self concept), konsep ini menyangkut penilaian diri terhadap diri sendiri dan yang ketiga adalah jati diri (true self) penilaian diri sendiri yang sejati.
Antara citra diri, konsep diri dan jati diri seringkali bertolak belakang. Sebagai contoh ketika kita begitu ingin diterima oleh orang lain, pasangan, kelompok atau organisasi (termasuk jamaah), maka kita mulai membangun citra diri yang tampak positif kita kemudian tidak berani untuk mengkritik, mengungkap pendapat yang berbeda, perasaan yang berbeda, memperlihatkan kekurangan, khawatir dinilai yang tidak-tidak, malu kalau di nilai negatif dan lain sebagainya. Sehingga kita kemudian menjadi pribadi yang selalu berharap dicintai dan diterima kita sangat takut dikucilkan apalagi diboikot maka kita pun rela membuat image baru melalui kata, pakaian, hobi, adat, etika, teman dan lain-lain di balik itu kita pun juga mempunyai sebuah persepsi tentang siapa kita “Who am i ?” konsep diri kita sering kali kemudian mengikuti citra diri yang kita baru. Boleh jadi konsep diri kita bisa benar dan juga bisa keliru, ketika kemudian konsep diri kita membenarkan bahwa kita memang khawatir, takut tidak di terima oleh orang lain, takut menyakiti orang lain, minder dan lain sebagainya tetapi boleh jadi apa yang kita persepsikan itu bisa salah. Namun kecenderungan kita membenarkan apa yang menjadi konsep diri yang negatif karena itu datang dari opini kita sendiri. Ada satu yang kemudian banyak orang lupakan yaitu jati diri, ya jati diri tidak bisa kita bohongi ia akan berbicara jujur sejujurnya kepada kita, bila kita mengingkarinya maka kita akan berhadapan dengan nilai moral universal yang telah diciptakan oleh Allah sang Maha Kuasa. Untuk menemukan jati diri yang sejati maka buka dulu topeng kita ?
(Hadist Hasan yang diriwayatkan At-Tirmidzi)
Suatu hari tukang batu sedang asyik bekerja memecahkan batunya dan ketika itu lewatlah seorang raja yang sedang melakukan kunjungan untuk melihat perkembangan rakyatnya. Tukang batu yang melihat kegiatan raja tersebut kemudian berandai-andai kalau seumpama ia bisa menjadi raja maka alangkah enaknya pekerjaannya yang hanya melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah dengan fasilitas gaji yang sangat memadai berbeda dengan pekerjaannya yang sekarang yang hanya menguras tenaga tetapi hasilnya sangat tidak memuaskan. Rupanya keinginan tukang batu tersebut di dengar oleh sang peri sehingga dengan tiba-tiba ia berubah menjadi seorang raja lengkap dengan pengawalnya. Di bawah sinar matahari siang ia memberikan pengarahan kepada rakyatnya di sebuah daerah miskin yang sangat jauh dan terpencil, ia merasakan kegerahan akibat suhu yang teramat panas karena sinar matahari di siang yang terik itu. Merasakan kepanasan karena sinar matahari tiba-tiba muncul keinginan untuk menjadi matahari dan tak lama berselang ia telah menjadi matahari. Karena bangganya menjadi matahari dengan seenaknya ia mengatur panas kesana kemari, tapi tiba-tiba ia merasakan gelap yang disebabkan oleh gerakan awan yang menutupi sinarnya. Ia pun mendengar sorak-sorakan manusia yang gembira karena kedatangan awan berarti akan hujan dan itu pertanda kekeringan akan berakhir. Mengetahui bahwa awan lebih dihormati, ia pun kemudian meminta kepada peri untuk merubah dirinya menjadi awan dan sim salabim ia telah berubah menjadi awan. Ia pun kemudian menikmati dirinya dielu-elukan oleh manusia karena bisa menurunkan hujan, tetapi karena keasyikan ia lupa air hujan telah menyebabkan banjir sehingga manusia berharap datangnya angin untuk mengusir awan yang berisi air hujan tersebut. Ia pun akhirnya tersingkir karena tertiup angin, mengetahui kehebatan angin iapun meminta lagi kepada peri untuk dirubah menjadi angin dan sekali lagi permintaannya dituruti. Ia pun berubah menjadi angin dan ia pun berasyik masyuk menghembuskan angin yang terkadang ganas dengan berubah menjadi angin topan ataupun sepoi-sepoi, tetapi ada satu yang membuat ia menjadi penasaran yaitu batu. Ya batu yang sangat besar ia tak bergeser sekalipun ia berubah menjadi angin topan, kekokohan batu itu membuatnya mengajukan permintaan terakhir kepada peri untuk dirubah menjadi batu dan dalam sekejap ia telah menjadi batu. Dari jauh ia mendengar suara langkah kaki yang ternyata seorang tukang batu yang bersiap-siap memecahkan dirinya.
Salam sukses mulia, banyak terjadi dalam kehidupan kita bagaimana seseorang menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri, kita berlomba-lomba untuk mengidentifikasi diri dengan kepemilikan materi, gelar, jabatan, status sosial, intelektual, kecantikan dan ketampanan membuat citra diri yang asli menjadi kabur. Banyak orang kemudian berpura-pura, memakai topeng, membangun citra diri yang palsu, membohongi diri sendiri dan orang lain hanya untuk mencapai sebuah impian agar semua orang menghormatinya.
Manusia modern adalah tipe manusia yang stress dan capek hanya untuk mencapai citra diri yang palsu, mereka menggunakan topeng untuk menutupi kekurangan diri dan untuk menutupi perasaan-perasaan khawatir dan terancam. Topeng yang kita gunakan akan semakin tebal bila ketidaknyamanan diri dan tekanan sosial semakin tinggi sehingga secara tidak sadar kita telah menjadi badut. Ya badut boneka besar yang kita tidak ketahui siapa orang dibalik baju badut yang tugasnya menghibur orang lain, menjadi tontonan banyak orang tetapi dibalik kegembiraan orang lain boleh jadi orang yang memerankan tokoh badut menyimpan 1001 kesedihan, kekhawatiran dan masalah yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Berikut petikan lagu yang berjudul badut yang dipopulerkan oleh kelompok Swami yang mungkin bisa memberikan sebuah ilustrasi menarik :
… Peragawati peragawan senyum-senyum seperti badut
Penyanyi dan pemusik, bintang film nampang seperti badut
Di televisi, di koran-koran
Di dalam radio, di atas mimbar...
.... Para pengaku intelek tingkah polanya lebihi badut
Kaum pencuri, tikus dan politikus palsu saingi badut
Di televisi, di koran-koran
Di dalam radio, di atas mimbar...
.....Ku aku aku aku aku aku aku aku seperti kamu
Mu kamu kamu kamu kamu kamu kamu seperti badut.....
Dalam sebuah wawancara televisi seorang yang sangat terkenal di dunia hiburan lawak bercerita bagaimana susahnya ia menggunakan topeng, “sebagai pelawak, saya di tuntut untuk selalu tampil gembira, menyenangkan dan membuat orang tertawa. Padahal, saya sendiripun seorang manusia yang kadang dirundung kesedihan dan masalah. Tapi fans tidak mau tahu dengan masalah yang saya hadapi. Mereka menuntut kehidupan yang lain dari saya”. Untuk menghindari tekanan sosial yang begitu komplek akhirnya ia pun menenangkan diri dengan memakai obat-obatan. Bagaimana dengan anda ?
Ada banyak cara untuk melepaskan diri dari topeng-topeng palsu yaitu dengan memahami sebuah konsep tentang diri. Dalam hidup ini setidaknya ada tiga lapisan diri pertama adalah citra diri kita (self image), citra ini adalah apa yang kita tampilkan secara sosial dan menyangkut penilaian orang lain. Kedua adalah konsep diri (self concept), konsep ini menyangkut penilaian diri terhadap diri sendiri dan yang ketiga adalah jati diri (true self) penilaian diri sendiri yang sejati.
Antara citra diri, konsep diri dan jati diri seringkali bertolak belakang. Sebagai contoh ketika kita begitu ingin diterima oleh orang lain, pasangan, kelompok atau organisasi (termasuk jamaah), maka kita mulai membangun citra diri yang tampak positif kita kemudian tidak berani untuk mengkritik, mengungkap pendapat yang berbeda, perasaan yang berbeda, memperlihatkan kekurangan, khawatir dinilai yang tidak-tidak, malu kalau di nilai negatif dan lain sebagainya. Sehingga kita kemudian menjadi pribadi yang selalu berharap dicintai dan diterima kita sangat takut dikucilkan apalagi diboikot maka kita pun rela membuat image baru melalui kata, pakaian, hobi, adat, etika, teman dan lain-lain di balik itu kita pun juga mempunyai sebuah persepsi tentang siapa kita “Who am i ?” konsep diri kita sering kali kemudian mengikuti citra diri yang kita baru. Boleh jadi konsep diri kita bisa benar dan juga bisa keliru, ketika kemudian konsep diri kita membenarkan bahwa kita memang khawatir, takut tidak di terima oleh orang lain, takut menyakiti orang lain, minder dan lain sebagainya tetapi boleh jadi apa yang kita persepsikan itu bisa salah. Namun kecenderungan kita membenarkan apa yang menjadi konsep diri yang negatif karena itu datang dari opini kita sendiri. Ada satu yang kemudian banyak orang lupakan yaitu jati diri, ya jati diri tidak bisa kita bohongi ia akan berbicara jujur sejujurnya kepada kita, bila kita mengingkarinya maka kita akan berhadapan dengan nilai moral universal yang telah diciptakan oleh Allah sang Maha Kuasa. Untuk menemukan jati diri yang sejati maka buka dulu topeng kita ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar